Rabu, 07 April 2010

The International Tracing Service and the ICRC


Since 1955 the ICRC manages the International Tracing Service (ITS) in Bad Arolsen which traces Nazi victims and their families. The ITS documents their fate and makes its archives available for research.
The International Tracing Service (ITS) in Bad Arolsen, Germany, serves the victims of Nazi persecution and their families by documenting their fate through the archives it manages. With a workforce of about 300 employees, the ITS preserves the historical records and makes them available for research. If lined up back-to-back the archives amount to 26 km of files containing information on the fate of about 17.5 million people.
The ITS provides information about:
* Germans and non-Germans who were detained in Nazi concentration or work camps or other detention sites from 1933 to 1945.
* Victims of the Holocaust.
* Non-Germans deployed as forced labourers on the territory of the Third Reich during World War II.
Displaced persons who, after World War II, were under the care of international relief organisations (UNRRA, IRO).
* Children (i.e. under 18 years of age at the end of World War II) of persons belonging to the above-mentioned groups and displaced or separated from their parents as a result of the war.
The archives do not hold documents on German civilians who fled, or were dispelled, from territories once occupied by German forces.
In 1955 the ICRC was entrusted with the management of the ITS by its governing body, the International Commission for the ITS. Their decision was motivated by the neutral and independent character of the ICRC and its expertise in tracing. Since then the ICRC has been managing the ITS by appointing an ICRC delegate to the position of ITS director. Prior to 1955 the ITS, created before the end of WW II under a British initiative, was initially managed by the Allied Expeditionary Forces and later on by the United Nations Relief and Rehabilitation Organisation, the International Refugees Organisation and the Allied High Commission for Germany.
For decades, the ITS had the constrained mandate of tracing civilians who fell victim to Nazi persecution and for clarifying their fate. It also issued certificates for pension and compensation payments and supported the work of legal authorities. It was in 2007 when the 11-member International Commission for the ITS had come to acknowledge the need to make these important archives also available to historic research by taking the land-mark decision of opening the archives to the public.
In the coming years it will no longer be possible to obtain direct testimonies from survivors of Nazi persecution. Therefore the unique documents preserved in Bad Arolsen will play a crucial role in testifying of this dark chapter of human history. At the same time the ITS will carry on with its traditional work of providing information to survivors and their families for as long as it continues to receive requests.
The additional new tasks of the ITS, such facilitating research, documentation and archival work, have already brought about structural changes that were necessary to adequately meet the new challenges resulting from the opening up of the archives to the public. In 2008 the ICRC informed the International Commission of its wish to withdraw from the administration and management of the ITS over the coming years.
Being aware of the fact that the new additional tasks of the ITS require skills that go beyond the ICRC mandate, the International Commission initiated discussions to redefine the mandate and organizational structure of the future ITS. The ICRC is participating in these discussions, which should lead to a durable solution and make it possible for the organization to withdraw from its present management role.
***
sources: ICRC.Org




Selasa, 06 April 2010

Tiga Langkah Membangun Remaja Bebas Narkoba


Peristiwa makin banyaknya penyalahgunaan narkoba di kalangan renaja saat ini benar-benar telah menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga di Indonesia.
Membangun remaja yang bebas dari penyalahgunaan narkoba harus didasarkan pada pencermatan terhadap karakteristik pengguna narkoba sekaligus tindakan yang melatarbelakanginya. Menurut analisis Dr. Graham Blaine (psikiater), penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari keinginan individu itu sendiri akan tetapi juga berasal dari lingkungan sekitarnya.
Semuanya itu jelas akan memburamkan masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa termasuk masa depan remaja itu sendiri. Logika yang dapat ditarik sangat sederhana. Remaja yang menyalahgunakan narkoba sudah menjadi generasi yang rusak dan sulit dibenahi. Tubuhnya tidak lagi fit dan fresh untuk belajar dan bekerja membantu orangtua, sementara mentalnya telah dikotori oleh niat buruk untuk mencari cara mendapatkan barang yang sudah membuatnya kecanduan. Bila sudah demikian, apa yang dapat diharapkan dari mereka?
Selanjutnya dan beberapa studi yang pernah dilakukan, karakteristik pengguna narkoba biasanya adalah remaja-remaja kita yang "bermasalah". Bermasalah disini artinya memiliki beban mental/kejiwaan yang menurut mereka sangat berat dan sulit untuk ditanggung. Misalnya terlalu sering dimarahi orangtua, tidak disukai lingkungan, merasa bersalah karena orangtuanya bercerai, tidak mendapat kasih sayang, prestasi belajar jelek, merasa diremehkan teman yang membuat sakit hati, merasa kurang percaya diri dan sebagainya.
Keinginan yang besar ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sedikitnya pengetahuan mereka tentang narkoba, membuat mereka rapuh dan terjebak dalam lingkaran yang menghancurkan. Bagaimana menangkalnya? Ada tiga langkah penting yang perlu dicoba untuk membangun remaja masa depan yang bebas narkoba.
Pertama, dalam lingkungan keluarga, orangtua berkewajiban memberikan kasih sayang yang cukup terhadap para remajanya. Mereka tidak boleh cepat marah dan main pukul tatkala sang remaja melakukan kesalahan baik dalam tutur kata, sikap, maupun perbuatannya, tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. sebaliknya, orangtua harus bersikap demokratis terhadap anaknya. Anak harus diposisikan sebagai insan yang juga membutuhkan penghargaan dan perhatian. Tidak cukup hanya diperhatikan kebutuhan fisiknya, tetapi juga kebutuhan psikisnya. Sehingga komunikasi yang hangat antara orangtua dan anak-anaknya menjadi langkah utama yang jitu untuk menjalin hubungan yang harmonis agar sang remaja menjadi tenteram dan nyaman tinggal di rumah. Jadi mereka tidak membutuhkan pelampiasan atau pelarian di luar rumah tatkala menghadapi persoalan yang rumit.
Kedua, dalam lingkungan sekolah, pihak sekolah berkewajiban memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang narkoba sebagai bentuk antisipasi terhadap informasi serba sedikit namun salah tentang narkoba yang selama ini diterima dari pihak lain. Pihak sekolah juga perlu mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan penanggulangan narkoba dalam rangka mencegah dan mengatasi meluasnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, seperti melakukan pembinaan dan pengawasan secara rutin terhadap siswa baik dengan melibatkan pihak lain (kepolisian, komite sekolah, orangtua), menggiatkan kegiatan ekstrakurikuler yang bermanfaat, serta mengembangkan suasana yang nyaman dan aman bagi remaja untuk belajar.
Di samping itu pihak sekolah perlu berupaya keras "mensterilkan" lingkungan sekolah dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba, dengan tidak membolehkan sembarang orang memasuki lingkungan sekolah tanpa kepentingan yang jelas dan mencurigakan sekolah dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba, dengan tidak memperbolehkan sembarangan orang memasuki lingkungan sekolah tanpa kepentingan yang jelas dan mencurigakan.
Ketiga, dalam lingkungan masyarakat, para tokoh agama, perangkat pemerintahan di semua tingkatan mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, hingga RT dan RW perlu bersikap tegas dan konsisten terhadap upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dilingkungannya masing-masing yang didukung penuh oleh phak keamanan dan kepolisian. Mereka perlu terus menerus memberi penyadaran pada seluruh warga masyarakat akan bahaya mengkonsumsi narkoba tanpa indikasi medik dan pengawasan ketat dari dokter dalam rangka penyembuhan. Khusus para tokoh masyarakat dan tokoh agama tidak boleh mengenal lelah dan bosan menanamkan norma-norma dan kebiasaan yang baik sebagai warga masyarakat, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan Tuhannya.
Ketiga langkah di atas adalah sebuah langkah formal dan normatif. Namun layak untuk diimplementasikan. Karena tiga lingkungan tersebut yang menjadi wilayah sehari-hari remaja ketika mencari jati dirinya.
Remaja adalah generasi penerus bangsa yang akan menentukan masa depan keluarga, masyarakat dan negara. Sebagai generasi penerus, remaja harus memiliki motivasi kuat untuk belajar dan terus belajar agar kelak akan mampu menjadi generasi yang tidak saja sehat, cerdas dan terampil, tetapi juga bertaqwa. Kita harus mengambil langkah, agar keterbelakangan dan keterpurukan bangsa ini tidak semakin dalam ke depannya karena remaja yang nantinya menjadi pilar tak lagi punya harapan.
***
sumber: bnn.go.id




Senin, 05 April 2010

Mengenal Lebih Dekat: Asmawan, Ketua KSR-PMI Unit Unram 2009-2010


"Kalahkan dirimu sendiri sebelum menghalahkan orang lain. Karena orang lain adalah cermin diri kita sendiri…"
Motto ini begitu melekat pada diri Asmawan, yang pada kepengurusan KSR-PMI Unit UNRAM periode 2009-2010 menjadi ketua umum hasil musnit 19. Tak heran cowok jomblo kelahiran Kwang Pati, Kopang (Lombok Tengah) 14 Februari 1988 ini dikenal sebagai sosok yang low profil dan mudah bergaul dengan siapa saja. Asmawan, atau lebih dikenal dengan panggilan ‘awenk’ saja mempunyai sifat pendiam dan lebih banyak bekerja.
MAHASISWA FKIP BASTRINDO semester 8 -- yang pada masa Tsanawiyah-nya pernah meraih peringkat pertama di kelasnya ini -- memiliki hobi jalan-jalan dan makan sambal belut. Cowok berambut keriting ini juga pernah menjabat sebagai koordinator biro perlengkapan, lalu berlanjut sebagai Ketua Bidang II di KSR-PMI Unit Universitas Mataram, dengan memulai karirnya di KSR dengan mengikuti DIKSAR XIX pada tahun 2007.
Ketua umum -- yang pada tahun lalu juga memimpin salah satu kegiatan akbar KSR yaitu LOKETPRAJA 9 -- ini mempunyai misi mengaktifkan semua biro dalam kepengurusannya. Tujuanya, untuk membentuk anggota yang profesional dan organisasi yang kuat secara internal dan external, menuju tertib adminstrasi dan tertib organisasi, yang pada akhirnya memperkuat bergaining position kita pada siapa saja dan dimana saja.
Selain itu, misi lain yang harus terealisasi, adalah tetap menjalin silaturahmi antara anggota dengan alumni serta relationship dan partnership dengan lembaga dan intstitusi yang mempunyai misi sejalan dengan KSR. Seperti contoh dengan AVI (Australia Volunteer International), walaupun masih dalam bentuk sharing informasi, berupa pengiriman Voluntary dan kita dikirimi majalah AVI.
Salah satu himbauan yang patut disimak dari Ketua Umum KSR-PMI Unit Universitas Mataram periode 2009-2010 ini -- saatmengakhiri obrolan dengan Bulletin Voluntary -- adalah “Kami berharap semua dukungan tanpa batas kepada seluruh anggota baik anggota aktif maupun Alumni. Untuk merapatkan barisan dan tetap memperjuangkan kemanusiaan serta memajukan KSR UNRAM seperti janji yang telah kita tulis di Kekait ‘Tanpa memandang perbedaan diantara kita’...”
***
Reporter: Bed/Ro2





Minggu, 04 April 2010

Kisah Seekor Monyet dan Cobaan Angin


Ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik. Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss…Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Nggak jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.
Nggak lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.
Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… segeeer… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.
Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah: Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN.., dicoba dengan Penderitaan.., didera Malapetaka.., Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN.., KESENANGAN.., KELIMPAHAN.., jangan sampai kita terlena.
***
Pengirim:
JOHN ALY
(Facebook: john_aly25@yahoo.com)
Diksar IX





Sabtu, 03 April 2010

Menikmati Wisata Kuliner di Kota Mataram


Untuk anda yang hobi jalan-jalan,baik antar kota sampai antar pulau,belum nikmat rasannya jika tidak mencoba sajian-sajian kuliner di kota yang anda kunjungi. Apabila anda berkunjung ke Mataram, sempatkanlah untuk menikmati sajian-sajian khas dari kota mataram,
Berikut adalah beberapa sajian-sajian kuliner khas Mataram yang wajib anda coba:
Sate Bulayak
Hampir sama seperti sate-sate yang lain, Sate bulayak ini juga terbuat dari daging sapi atau ayam hanya saja yang membedakan adalah lontong dari sate bulayak ini. Nama Bulayak ternyata di ambil dari lontong khas di kota Mataram, yakni seperti lontong biasa hanya saja bentuknya lebih mungil dan mengerucut.
Dibungkusnya pun tak menggunakan daun pisang,tetapi menggunakan daun aren dengan lilitan berbentuk spiral, sehingga membukanya harus dengan gerakan memutar.Yang unik dari sate ini teerletak pada bumbunya. Bumbu dari sate ini trerbuat dari kacang tanah yang di sangrai dan di tumbuk,kemudian di rebus beserta santan. Sekilas rasanya seperti bumbu Kari. Penasaran? Jika anda ingin mencoba, Kuliner ini banyak di jumpai di jalan Udayana Mataram Taman Kota,Mataram
Soto Yu Gisah
Untuk anda yang berasal dari Jawa, dan tidak selera dengan kuliner dari kota Mataram,tidak perlu khawatir.Karena di Mataram ada tempat makanan yang bernama Soto Yu Gisah, dari namanya pun anda sudah bisa menebak kalau kuliner ini berasal dari Jawa. Ya benar,soto yang bertempat di Jl.Adisucipto No.10, Mataram ini memank menawarkan sajian kuliner dari tanah Jawa.Tempatnya pun di desain khusus dengan adannya pendopo-pendopo dan suasana yang asri,anda bisa benar-benar menikmati dan merasa anda sedang berada di tanah Jawa.
Dengan menu andalan Nasi Soto Ayam dengan di taburi irisan daging ayam kampung di tambah ayam goreng dan tempe goreng menjadi semakin nikmat rasa soto tersebut.Jadi sebelum anda ingin pergi ke luar pulau Lombok,di pertigaan bandara,belok kanan sebentar, Sekitar 20 meter sebelah kanan anda akan menemui Soto Yu Gisah.
Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung
Berkunjung ke Mataram,tidak sempurna jika anda melewatkan Ayam Taliwang. Karena menu Ayam Taliwang merupakan salah satu pusaka kuliner Indonesia yang banyak penggemarnya. Dan jika anda sedang berlibur di Mataram sempatkanlah untuk mencicipi kuliner ini dari tempat asalnya.Tempat yang biasa banyak di kunjungi untuk menikmati sajian ini adalah Taliwang Irama,yang berlokasi di Jl.Ade Irma Suryani-Mataram.
Kerupuk Kulit “Bunga Mawar”
Oleh-oleh merupakan sesuatu yang penting bagi seseorang yang sedang melakukan perjalanan ke daerah lain, apalagi ke daerah yang jarang di kunjungi seperti Mataram.Kerupuk Kulit bisa di jadikan alternatif sebagai oleh-oleh.Terbuat dari kulit sapi atau kerbau,makanan ini memank cocok di jadikan buah tangan.Anda bisa membeli dalam bentuk mentahan ataupun yang sudah siap saji.Harga kerupuk ini, yang mentah untuk ukuran 250gram di patok harga Rp 30.000.Jika di goreng anda cukup menunggu 4-5 menit,barulah kerupuk ini bisa di sajikan.Jika anda tertarik untuk menjadikan Kerupuk Kulit ini sebagai oleh-oleh,tempat ini berlokasi di Jl.Khairil Anwar No.4, Mataram, Telp: (0370) 627921.
***
sumber: matarambox.com





Jumat, 02 April 2010

Hikmah: Meraih Surga Ibu


Syahdan, seorang laki-laki suatu ketika bertanya kepada Ibn Abbas RA, ''Saya meminang seorang wanita, tetapi dia menolak pinangan saya. Setelah itu, datang orang lain meminangnya, lalu dia menerimanya. Saya menjadi cemburu dan membunuhnya. Apakah tobat saya diterima?''
Ibn Abbas bertanya, ''Apakah ibumu masih hidup?'' Dia menjawab, ''Tidak.'' Ibn Abbas berkata, "Bertobatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampumu."
Atha' bin Yasar yang hadir ketika itu bertanya kepada Ibn Abbas, "Mengapa engkau bertanya kepada lelaki itu, apakah ibunya masih hidup?" Ibn Abbas menjawab, "Saya tidak tahu perbuatan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah SWT, melainkan berbakti kepada ibu." (HR Bukhari).
Demikian mulia kedudukan seorang ibu. Di antara bapak dan ibu, ibulah yang lebih berhak untuk menerima perhatian dari seorang anak. Tidak hanya itu, dalam sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang masyhur, ibu memiliki hak tiga kali lipat lebih besar daripada seorang bapak.
Ada beberapa alasan mengapa seorang ibu memiliki hak tiga kali lipat lebih besar daripada seorang bapak. Pertama, seorang ibu menanggung berbagai kesusahan, baik ketika mengandung maupun melahirkan. Bahkan, ketika anaknya sudah berumur empat puluh tahun pun, perhatian seorang ibu tidak pernah berhenti, ia terus mendoakan anaknya (QS Al-Ahqaf [46]: 15).
Kedua, kesusahan ketika mengandung itu bertambah dan semakin bertambah (QS Luqman [31]: 14).
Ketiga, kesusahan seorang ibu mencapai puncaknya ketika hendak melahirkan. Alquran memberi gambaran betapa sakit waktu melahirkan dengan ungkapan bahwa Maryam binti Imran menginginkan kematian atau menjadi barang yang tidak berarti (QS Maryam [19]: 23).
Keempat, setelah melahirkan, kewajiban ibu belum selesai. Ia harus menyusui dan merawat anaknya. Ia tidak akan pernah merasa tenang jika keselamatan dan kenyamanan sang anak terancam. Hal ini seperti ibu dari Nabi Musa AS ketika ia diperintahkan Allah untuk menghanyutkan anaknya di sungai (QS Alqashash [28]: 7-13).
Empat perkara ini cukup menjelaskan mengapa Allah dan Rasul-Nya menempatkan derajat ibu lebih tinggi daripada bapak. Bahkan, surga --sebagai sebaik-baik tempat kembali bagi manusia sesudah mati-- diasosiasikan berada di bawah telapak kaki seorang ibu.
***
sumber: republika.co.id




Kamis, 01 April 2010

RSU Mataram Belum Terima Pasien Jamkesmas


Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Mataram yang telah diresmikan 3 Maret lalu, belum dapat menerima pasien peserta Jamkesmas. Demikian diungkapkan Direktur RSU Kota Mataram, dr. L. Herman Maputra kepada wartawan di kantor Wali Kota Mataram, Jumat (26/3) kemarin.

“Kami sampai saat ini belum bisa dan tidak berani menerima pasien Jamkesmas, karena kami baru bisa melayani pasien Jamkesmas apabila izin dari Depkes (Departemen Kesehatan) pusat telah keluar,” terang pria yang akrab disapa dr. Jack ini.

Diakuinya sampai saat ini izin belum dikeluarkan sebagai akibat dari status kelas dari RSU Mataram yang sampai saat ini belum ditentukan oleh Depkes pusat. Pihak Depkes
harus meninjau secara langsung rumah sakit yang bersangkutan. Setelah itu baru bisa diputuskan status suatu rumah sakit tersebut. “Rencananya RSU Mataram akan dikunjungi pada akhir April, namun kita minta untuk diprioritaskan pada awal bulan April ini,” ujarnya.
Namun dalam hal ini dr. Jack mengakui RSU Kota Mataram akan tetap menerima pasien Jamkesmas, meskipun izin dari pusat belum keluar. “Kita akan tetap terima, apabila keadaan pasien tersebut darurat. Seperti sesak nafas, kejang-kejang, kolera dan lainnya yang bersifat sangat darurat,” ucapnya.
Meski mulai ramai dikunjungi pasien. Namun, untuk saat ini pelayanan RSU Mataram hanya melayani pasien Askes dan umum.
***
sumber: suarantb.com