Sabtu, 13 Februari 2010

Humor Gus Dur : Keliling Dunia Tidak Mati Kok!


Empat dokter ahli menyampaikan analisis negatif terhadap kesehatan Gus Dur kepada DPR. Jauh sebelumnya, salah satu Ketua DPP Partai Golkar Agung Laksono juga pernah mengungkit masalah itu. Agung, yang juga dokter, mengusulkan agar Presiden Gus Dur diperiksa oleh tim dokter independen. Usul itu disetujui oleh Ketua MPR Amien Rais.
Saat Gus Dur berkunjung ke Kairo, wartawan pun menanyakan usulan Agung Laksono itu.
“Kalau mau tahu soal kesehatan saya, tanya saja sama dokter yang pernah memeriksa saya,” jawab Gus Dur serius.
Kalau belum percaya? “Gampang saja, saya keliling (dunia) ini tidak mati kok,” jawab Gus Dur menekankan betapa sehatnya dia.
Tapi kemudian Gus Dur bilang, “Masalah begitu jangan tanya sayalah. Saya sudah malas menjawabnya. Punya ambisi politik saja kok sampai begitu.”



Jumat, 12 Februari 2010

Mengenal Penyakit : Asam Urat


Diskripsi
Asam urat adalah sisa metabolisme zat purin yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Purin adalah zat yang terdapat pada tiap bahan makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, jika kita makan daging ayam yang terdapat purin di dalamnya, maka purin itu masuk ke dalam tubuh kita. Tidak hanya daging, sayuran dan buah-buahan juga mengandung purin.
Jika tubuh dalam keadaan normal, asam urat itu akan dikeluarkan tubu melalui kotoran atau urin. Namun karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat maka yang terjadi adalah kadar asam urat dalam tubuh berlebihan. Asam urat tadi kemudian terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri dan bengkak. Oleh karena itulah maka penderita asam urat biasanya susah jalan.
Gejala
Gejala umum dari asam urat antara lain; kesemutan dan linu, nyeri di malam atau pagi hari, sendi yang terkena asam urat bengkak berwarna kemerahan.
Pengobatan
Beberapa solusi yang bisa mencegah atau mengobati asam urat dapat dilakukan dengan; melakukan pengobatan (bagi yang sudah menderita asam urat), kontrol makanan yang dikonsumsi sehari-hari, perbanyak minum air putih. Air putih ini membantu membuang purin dalam tubuh.
Beberapa makanan yang mengandung banyak purin dan sebaiknya dihindari antara lain; jeroan, hati, ginjal, limpa, babgat, usus, paru dan otak, udang, kerang, cumi, kepiting, kornet, sarden, daging, telur, kuah kental, tempe, oncom, susu kedelai, bayam, kangkung, daun singkong, dan kembang kol. Selain itu minuman beralkohol. Makanan dan minuman tersebut sebaiknya dihindari.



Kamis, 11 Februari 2010

PD-PRT KSR PMI UNIT UNRAM

Download Button

Khasiat Herbal: Pandan


Deskripsi:
Pandan (Pandanus amaryllifolius) biasa dipakai untuk memberi aroma wangi pada makanan. Selain itu juga sebagai pewarna hijau alami. Fungsi pandan ternyata tak sebatas itu, pandan juga bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Kandungan:
- alkoida
- flavonoida
- tanin
- plifenol
- saponin
Khasiat:
Daun pandan wangi dapat membunuh larva nyamuk aedes aegypti.



Rabu, 10 Februari 2010

Mutual Symbiosis KSR-PMI Unit Unram dan IKA KSR-PMI Unram


Ditulis oleh: M. Aan Ardiansyah

Tidak terasa KSR-PMI Unit Unram kini telah beranjak dewasa... 20 tahun, tentunya bukan waktu yang singkat menuju kemandirian organisasi..Sebagai sebuah organisasi yang sudah cukup umur, tentunya fenomena yang terjadi didalamnya telah menciptakan berbagai pelajaran dan pengalaman yang berharga….

Namun, pelajaran apakah yang bisa kita petik?? Pengalaman apa yang bisa kita jadikan rujukan??? Itu semua berpulang kepada kita, masing-masing individu yang katanya pernah menyerahkan sebahagian jiwanya untuk kehidupan dan kesinambungan organisasi yang namanya KSR-PMI Unit Unram…

Lantas, apakah kita memang sudah dibesarkan oleh organisasi ini??? apakah kematangan, kemandirian, dan ke-bisa-an kita memang atas jasa dan peran KSR-PMI Unit Unram??? Sehingga entah harus dimulai dari mana jatidiri kita sekarang harus menanggung beban hutang atas jasa-jasa yang telah diberikannya….atau sebaliknya kita telah melunasi hutang-hutang tersebut dengan memberikan jasa-jasa yang tentunya melebihi hutang yang ada….
Akankah demikian gambaran kekinian dari pergolakan yang terjadi didalam tubuh lembaga yang kita sebut sebagai KSR-PMI Unit Unram….
Entah kapan dimulainya, pergolakan itu menguak justru disaat organisasi ini sedang merayakan hari besarnya….bagi pengurus, hari besar itu kita namakan “LOKETPRAJA” dan bagi alumni, kita namakan “TEMU ALUMNI KSR-PMI Unit Unram ke-20”…

Harus kita pahami bahwa KSR-PMI lahir sebagai satu organisasi kemahasiswaan disatu sisi dan sebagai organisasi kemanusiaan disisi yang lain. Keduanya memiliki hierarki yang saling melengkapi dimana berujung pada diciptakannya generasi yang Tut Wuri Handayani serta berpegang pada Prinsip-Prinsip Dasar Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional….

Sungguh generasi yang beruntung dianugerahi dan menyandang gelar itu….Semboyan "Tut Wuri Handayani", atau aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Arti dari semboyan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik)….

Selanjutnya, 7 Prinsip Dasar Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional: Kemanusiaan (dalam arti menumbuhkan saling pengertian, persahabatan, kerjasama dan perdamaian abadi bagi sesama manusia); Kesamaan (tidak membuat perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan, agama atau pandangan politik); Kenetralan (senantiasa mendapat kepercayaan dari semua pihak, tidak boleh memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, kesukuan, agama atau ideologi); Kemandirian (bersifat mandiri, harus mentaati peraturan, dan harus selalu menjaga otonominya); Kesukarelaan (memberikan bantuan secara sukarela, yang tidak didasari oleh keinginan untuk mencari keuntungan apa pun); Kesatuan (terbuka untuk semua orang dan melaksanakan tugas kemanusiaan); Kesemestaan (semesta, bahwa semua orang mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong)….

Sekiranya dua hal itu, telah ternoda oleh apa yang terjadi sekarang ini….organisasi yang seharunya kita banggakan seakan sirna oleh pergulatan yang entah siapa yang melakoninya…

Sungguh tiada keinginan lain yang diharapkan yaitu mari kita jadian organisasi ini sebagai wadah silaturrahmi kita, wadah tukar menukar informasi, wadah mengembangkan diri dan jaringan dan hal-hal lain yang tentunya akan membawa hal positif bagi kita semua….satu pikiran dan pemahaman …. Insya allah akan semakin memperkokoh lembaga yang sekarang kita banggakan….

AD ART KSR-PMI Unit Unram juga telah tegas menggariskan hubungan antara pengurus/anggota aktif dengan alumni…

so…apalagi yang harus diperdebatkan….

Sebagai junior (pengurus aktif) sudah seharusnya dapat menghargai para alumni..buka buku kenangan setiap edisi diksar, undang dalam setiap pertemuan, informasikan perkembangan organisasi melalui wadah media/bulletin KSR….
Sebaliknya, kepada Senior (alumni) hargai apa yang dilakukan oleh para junior, tuntun mereka dengan cara-cara bijak dan mengedepankan profesionalisme…

Hubungan kedua komponen ini harus kuat dan harus saling menunjang (mutual symbiosis). Dengan demikian, harapan kita untuk melihat organisasi dan lembaga yang kuat dan mandiri dapat terwujud.
***

sumber: Facebook groupAlumni KSR Unit Universitas Mataram



Selasa, 09 Februari 2010

Cara Mengatasi Kecemasan


Seorang mahasiswa S2, koordinator kelas, sebutlah namanya Christin, membuat teman-teman sekelasnya terheran-heran. Pasalnya, Christin yang aktif, senang bercanda, dan memiliki postur tubuh bak atlet itu ternyata memiliki kecemasan yang irasional, hanya karena mendengar kata “kecoak”.
Dengan muka tegang ia sibuk menutup telinga dengan saputangan tebal ketika teman-temannya bicara tentang kecoak. Ironis kedengarannya. Kenyataannya, keadaan seperti ini benar-benar dialami oleh sebagian dari kita, meski dengan intensitas dan objek yang berbeda-beda.
Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi negatif. Baik bersifat rasional maupun irasional ini merupakan persoalan tersendiri bagi yang mengalaminya. Oleh sebab itu, kita perlu memiliki keterampilan untuk mengatasinya.
Apa itu Kecemasan?
Perihal rasa cemas, semua orang mengetahui dan pernah merasakannya. Namun, untuk menjelaskan apa itu kecemasan kita mungkin memiliki jawaban yang berbeda-beda.
Dalam Psikologi, ada yang menjelaskan bahwa kecemasan merupakan ketakutan yang tidak realistis, suatu perasaan terancam ketika merespon sesuatu yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengancam. Ini berbeda dengan ketakutan, yang bersifat realistis, benar-benar karena sesuatu yang menakutkan.
Untuk menghindari pengertian antara cemas dan takut (juga dengan nervous dan tegang) yang pada dasarnya tidak terlalu jelas perbedaannya, kita dapat berpegang pada penjelasan yang diberikan Calhoun & Acocella (1990). Menurut mereka, kecemasan merupakan suatu perasaan takut (realistis maupun tidak), disertai peningkatan gejolak fisiologis.
Bagaimana kecemasan berkembang, khususnya yang tidak realistis?
Sigmun Freud dengan teori psikodinamikanya menjelaskan, kecemasan yang tidak realistis (seperti halnya kecemasan karena kecoak), merupakan gejala dari rasa takut yang lebih mendalam. Biasanya berhubungan dengan alam bawah sadar yang berkaitan dengan dorongan seksual atau agresif, yang menerobos kontrol ego menuntut pemuasan, dan akhirnya menimbulkan ketakutan luar biasa pada diri individu.
Lain halnya penjelasan dari aliran perilaku (behaviorism) dengan tokoh-tokoh Watson, Skinner, dll. Kecemasan yang realistis maupun yang tidak realistis menurut mereka merupakan hasil pengondisian respon.
Contohnya, seorang anak mengenal kecoak bersamaan dengan peristiwa lain yang mengerikan (misalnya ia terkunci di kamar mandi dan menemukan gerombolan kecoak di saluran pembuangan). Hasilnya, ia mempelajari dan merespon kecoak sebagai makhluk yang mengerikan. Hal ini dapat terbawa hingga dewasa.
Kecemasan mempunyai tiga komponen, yaitu emosional, kognitif, dan fisiologis. Dalam komponen emosional, individu mengalami perasaan takut yang intens dan disadari. Dalam komponen kognitif, peningkatan rasa takut akan mengacaukan kemampuan individu untuk berpikir jernih.
Dalam komponen fisiologis, tubuh merespon ketakutan dengan memobilisasi diri untuk bertindak, baik dikehendaki ataupun tidak. Respon fisiologis ini merupakan hasil kerja sistem saraf otonom yang mengendalikan berbagai otot dan kelenjar tubuh.
Respon fisiologis ketika terjadi kecemasan antara lain detak jantung meningkat, irama napas lebih cepat, pupil mata melebar, proses pencernaan terhenti, pembuluh darah menyempit, tekanan darah naik, kelenjar adrenalin dalam darah meningkat. Itu semua menyebabkan individu menjadi tegang dan siap melakukan tindakan menyerang atau melarikan diri dari situasi yang ada.
Kecemasan, bila terjadi dalam level sedang dan dalam keadaan memang ada hal yang harus ditakuti (misalnya sedang menghadapi wawancara kerja), merupakan hal normal. Akan menjadi masalah bila kecemasan terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan situasi yang ada (tidak realistis).
Kecemasan semacam ini akan memerosotkan sumber daya fisik dan fisiologis kita. Lebih jauh lagi, dapat mengurangi rasa berharga, merasa kecil, dan tidak berdaya.
Menganalisis Kecemasan
Pola kecemasan berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain. Perbedaan itu antara lain dalam hal penyebab yang memicu kecemasan (anteseden), keadaan cemas itu sendiri (tingkat kecemasan, gejala), dan konsekuensi yang ada setelah terjadi kecemasan.
Untuk mengendalikan kecemasan, terlebih dahulu kita perlu melakukan analisis terhadap kecemasan tersebut.
Pertama, kita tentukan apa yang membuat kita cemas: Karena melihat kecoak? Karena harus mengalahkan orang lain dalam suatu hal (kompetisi)? Atau karena menghadapi soal-soal ujian?
Bila kecemasan itu karena kecoak, perlu dipastikan apakah bulunya yang membuat cemas? Atau baunya?
Dalam situasi seperti apa kecemasan terhadap kecoak itu muncul: Kalau melihat? Kalau mendengar kata kecoak? Kalau melihat di kamar? Hanya kalau malam atau sembarang waktu?
Kedua, kita menentukan penyebab internal (dari dalam diri), yakni dengan memeriksa kecemasan itu sendiri: Apakah yang kita pikirkan dan kita rasakan saat terjadi pengalaman kecemasan itu?
Bila kecemasan karena kecoak, perlu diperiksa: Apakah bayangan kecoak bergerombol muncul kembali setiap kali melihat kecoak? Apakah kecoak itu membangkitkan rasa muak yang luar biasa? Ataukah kecoak mengingatkan pada peristiwa mengerikan?
Ketiga, kita mendeskripsikan konsekuensi dari kecemasan itu. Apa yang kita lakukan dengan mengalami kecemasan? Bila cemas karena kecoak, perlu dideskripsikan respon apa yang terjadi setelah timbul kecemasan: Apakah kita lari, bersembunyi, atau menghindar? Seperti apa akibatnya terhadap tubuh, terhadap perasaan, dan terhadap pikiran (kognisi)?
Mengelola Kecemasan
Setelah melakukan analisis, kita dapat menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya.
- Perencanaan lingkungan
Berbagai stimulus (objek, orang, situasi) yang membuat kita mengalami kecemasan bukanlah hal yang harus kita hadapi. Kita berhak menghindari stimulus-stimulus tersebut.
Contohnya, film horor bukanlah sesuatu yang harus kita tonton. Bila kita cemas/takut, kita dapat menghindari dengan tidak menontonnya. Bila takut kecoak, kita dapat menghindarinya di rumah dengan cara membasminya. Di luar rumah, kita dapat menghindari kecoak dengan cara sebisanya menghindari tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang kecoak.
Namun, tidak semua stimulus yang membuat cemas dapat kita hindari begitu saja. Contohnya, kecemasan tinggi yang terjadi setiap kali mau ujian, berbahaya bila kita atasi dengan menghindari ujian. Untuk itu kita perlu mengatur agar kecemasan sewaktu ujian dapat berkurang dengan cara belajar sampai tuntas dsb. Kalau kita cemas setiap kali orangtua bertengkar, tentu saja kita tidak cukup hanya menghindari orangtua kita. Kita berhak meminta mereka tidak bertengkar, mengatasi konflik dengan cara dialog yang baik.
Pendek kata, menghindar merupakan cara yang paling umum dipilih dalam perencanaan lingkungan. Namun, cara menghindarinya perlu kita pikirkan, agar hal lain yang lebih penting tidak dikorbankan.
- Relabeling dan self-talk
Bila kita tidak dapat mengindari stimulus yang membuat kita cemas, cara lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi pemicu internal, yakni di dalam diri kita sendiri. Biasanya berupa pikiran dan ungkapan-ungkapan negatif yang diikuti dengan emosi negatif.
Bila kita selalu cemas saat menghadapi ujian, mungkin itu karena kita dalam hati berpikir tentang kemungkinan gagal, tentang soal-soal yang tidak dapat dijawab. Oleh sebab itu, kita perlu mengganti dengan keyakinan dan perkataan positif terhadap diri sendiri, “Mungkin tidak mudah, tetapi aku akan dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik setelah aku belajar sungguh-sungguh.”
Dalam kasus kecemasan terhadap kecoak, bila semula kita menganggap kecoak sebagai monster yang mengerikan, ganti dengan pikiran bahwa kecoak hanya seekor serangga yang tidak berbahaya. Kita dapat mengatakan pada diri sendiri, “Aku pasti dapat menghadapi kecoak karena nyatanya kecoak hanyalah serangga yang tidak berbahaya seperti jangkrik.”
Kita tidak perlu menyatakan sesuatu yang terlalu optimistis, cukup yang realistis. Relabeling dan self-talk ini dapat menghambat respon cemas yang biasanya terjadi secara otomatis.
- Desensitisasi
Respon cemas sedapat mungkin harus diubah agar kita tidak lagi mengalami emosi negatif bila mendapat provokasi stimulus yang membuat cemas. Cara yang sangat efektif adalah desensitisasi. Desensitisasi terdiri dari dua langkah: rileksasi dan secara bertahap mengalami stimulus yang membuat cemas.
Rileksasi dilakukan dengan cara melemaskan seluruh otot tubuh, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Latihan ini untuk setiap bagian tubuh disertai mengatur pernapasan perut (napas panjang). Pernapasan panjang dimulai terlebih dahulu sebelum melemaskan bagian-bagian otot tubuh.
Setelah dicapai keadaan rileks, selanjutnya mulai berlatih menghadapi stimulus yang membuat kita cemas. Hal ini dapat dengan cara membayangkan (dapat dilakukan dengan gambar) maupun sungguh-sungguh menghadapinya. Tampilan stimulus, misalnya kecoak, diperlihatkan dalam keadaan yang paling tidak mencemaskan (misalnya hanya tampak sedikit sayapnya di balik bunga).
Setelah berhasil, secara bertahap stimulus ditampilkan dalam keadaan yang sedikit mencemaskan, misalnya satu sisi sayap kecoak tampak di balik bunga). Demikian seterusnya.
Kombinasi rileksasi dan latihan menghadapi stimulus ini dilakukan hingga seseorang benar-benar tidak lagi cemas menghadapi stimulus itu apa adanya.
***
sumber: kompas.co.id



Senin, 08 Februari 2010

Humor Gus Dur : Meminta Ditemani Gadis di Hotel?


Seorang gadis, hitam manis, duduk di sebuah bar.
“Permisi, boleh saya mentraktir Anda minum?” tawar seorang laki-laki muda menghampirinya.
“Apa ke hotel?” teriak si gadis.
“Bukan, bukan. Jangan salah paham. Saya hanya menawari minuman ….”
“Kau meminta aku menemanimu ke hotel?” teriak si gadis lebih keras.
Merasa ditolak, dengan perasaan malu, laki-laki muda itu beringsut dan duduk di sudut ruangan. Semua orang di bar menatap laki-laki dengan sinis dan mencibir.
Beberapa menit kemudian, si gadis menghampiri si laki-laki muda itu.
“Maafkan saya. Saya sedang menyamar. Sebenarnya, saya adalah seorang mahasiswi psikologi yang sedang mempelajari tingkah laku manusia di situasi yang tidak dikehendakinya.”
Si laki-laki menatap dengan tampang dingin. Kemudian berteriak dengan amat kerasnya, “Berapa? Dua ratus ribu???”