Sabtu, 20 Maret 2010

Kuliner: Balado Telur Mata Sapi

Bahan:
5 btr telur ayam
5 sdm minyak goreng

Bumbu halus:
5 siung bawang merah
3 bh cabai merah
4 btr kemiri
1 bh tomat
1/2 sdt garam
1 sdt gula pasir
250 ml air
2 sdm minyak

Cara membuat:
1. Panaskan minyak goreng dalam wajan datar antilengket, buat telur mata sapi, satu per satu.

2. Tumis bumbu halus hingga harum, tambahkan air, garam, dan gula pasir. Masak hingga matang.

3. Masukkan telur mata sapi, biarkan hingga bumbu meresap. Angkat.

-----------------
Untuk 5 porsi
-----------------

Nilai gizi per porsi:
Energi:
166 Kkal
Protein:
11,1 gr
Lemak:
12,2 gr
Karbohidrat:
2,2 gr

***

Resep kiriman:
Hindah Muaris, pemerhati kulinologi




Jumat, 19 Maret 2010

Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat


Guna mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi pada saat-saat yang akan datang saat ini PMI tengah mengembangkan Program Community Based Disarter Preparedness (Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat).
Program ini dimaksudkan mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk menyiagakan dalam mencegah serta mengurangi dampak dan risiko bencana yang terjadi di lingkungannya. Hal ini sangat penting karena masyarakat sebagai pihak yang secara langsung terkena dampak bila terjadi bencana.
Selain itu di Palang Merah Indonesia juga marak di selenggarakan pelatihan untuk Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (Community Based First Aid/ CBFA)
Pada dasarnya seluruh gerakan kepalangmerahan haruslah berbasis masyarakat, ujung tombak gerakan kepalangmerahan adalah unsur unsur kesukarelaan seperti Korps Sukarela atau KSR maupun Tenaga Sukarela atau TSR dan juga Palang Merah Remaja atau PMR dan seluruh unsur ini selalu berbasis pada anggota masyarakat sesuai salah satu prinsip kepalangmerahan yaitu kesemestaan.



Kamis, 18 Maret 2010

Perjalanan: Menangkap Nyale di Sumbawa


Pukul 5 pagi, saya dan teman saya bersiap-siap menuju pantai Tropi di Sekongkang, Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kami berdua sedikit khawatir, karena untuk mencapai pantai tersebut, kami harus melewati jalan setapak berbatu yang dikelilingi hutan, lengkap dengan hewan-hewan liarnya.
Saat siang hari saja, kami seringkali dikejutkan oleh babi hutan yang tiba-tiba melintas, atau ular yang melintang di tengah jalan. Kami khawatir, jika hari gelap, bahkan kera-kera yang sering duduk di pinggir jalan itu pun bisa saja mengejutkan kami.
Namun, akhirnya kami bersyukur karena ternyata, semakin mendekati pantai, jalan setapak itu pun semakin ramai. Saya sendiri sedikit takjub, belum pernah saya lihat pantai Tropi seramai ini. Kendaraan berderet-deret di pinggir pantai yang tidak dilengkapi tempat parkir ini. Tidak hanya penduduk desa saja yang datang, tapi juga pengunjung dari luar daerah, hingga turis-turis asing. Saya tidak menyangka acara menangkap nyale di sini ternyata cukup populer. Padahal daerah ini bukan tempat asal tradisi menangkap nyale ini.
Sebagian besar pengunjung datang bersama seluruh anggota keluarganya. Mereka mengerahkan seluruh tenaga yang ada agar dapat menangkap cacing sebanyak-banyaknya. Mereka membawa peralatan lengkap yang terdiri dari ember, jaring halus, hingga peti es! Namun, yang membuat saya tertawa geli adalah ‘kreativitas’ mereka. Para ibu nampaknya membawa peralatan dapur mereka, baskom plastik untuk menampung nyale dan saringan kelapa untuk menangkap nyale. Bahkan ada yang membawa bakul nasi dan dan kukusan. Nampaknya mereka membawa apa saja yang mereka temukan di rumah yang dapat mereka gunakan untuk ‘berburu’ nyale.
Para bapak pun tidak mau ketinggalan. Mereka membawa topi caping mereka, serta tas dari karung yang mereka sampirkan ke pundak untuk menampung nyale. Yang paling unik tentu saja jaring yang dibuat oleh suami bidan desa kenalan teman saya. Ia membuat sebuah jaring besar dari sisa kelambu malaria yang dibagikan pemerintah. “Supaya dapat banyak!” katanya. Lalu, bagaimana dengan saya dan teman saya? Kami hanya membawa satu barang penting, kamera. Saat orang lain sibuk menangkap nyale, kami sibuk menangkap momen-momen penting, dan tentu saja… berpose.
Tradisi menangkap nyale (atau dalam bahasa Sasak disebut Bau Nyale) berasal dari Pulau Lombok. Tepatnya di sepanjang pantai selatan Lombok. “Nyale” sendiri merupakan sejenis cacing yang hidup di laut. Tradisi ini menjadi istimewa karena cacing nyale hanya dapat ditemukan di pantai-pantai tersebut setahun sekali, yaitu tiap tanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak), yang biasanya jatuh tiap bulan Februari atau awal Maret. Itu pun hanya selama 2 atau 3 hari saja.
Lantas apa yang akan dilakukan setelah cacing-cacing tersebut berhasil ditangkap? Dimakan tentunya. Saya meringis-ringis menahan rasa jijik melihat seorang bocah kecil melahap cacing tersebut langsung dari jaringnya. “Nyaman rasa!” serunya, yang berarti ‘enak rasanya’ dalam bahasa Sumbawa. Hanya beberapa saja yang langsung memakannya hidup-hidup. Selebihnya mereka bawa pulang untuk dimasak dan disantap bersama keluarga.
Ada juga yang menjual hasil tangkapannya itu. Harganya cukup mahal, yakni Rp 10.000 untuk satu cangkir cacing nyale. Konon, katanya cacing ini merupakan sumber protein tinggi dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit tifoid (untuk hal ini saya belum menemukan literaturnya).
Ada beberapa alasan mengapa mereka ingin segera memakannya. Pertama, karena katanya rasanya lebih segar (bagi yang tahan jijik). Kedua, karena cacing ini dipercaya dapat membawa berkah bagi keluarga mereka. Selain itu, penduduk setempat juga mengatakan bahwa cacing ini tidak dapat disimpan lama-lama, bahkan di dalam kulkas. Menurut mereka jika disimpan terlalu lama cacing nyale akan berubah menjadi air. Sayang sekali, saya dan teman saya itu tidak sempat membuktikan fenomena tersebut karena kami terlalu asyik berfoto sehingga lupa membawa pulang beberapa cacing.
Di tempat asal tradisi ini, terdapat legenda mengenai tradisi Bau Nyale ini. Konon, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik bernama Putri Mandalika. Karena kecantikan dan kelembutan hatinya, banyak pangeran yang ingin meminang sang putri. Akan tetapi, semua lamaran pangeran-pangeran tersebut ditolaknya dengan halus karena dalam pertapaannya, ia mendapat ramalan bahwa apabila ia menikah dengan salah satu pangeran tersebut, maka kerajaannya akan hancur. Dua dari pangeran yang hendak meminang sang putri tidak terima lamaran mereka ditolak.
Mereka pun kemudian mengirimkan semacam ilmu hitam kepada sang putri, sehingga putri tersebut jatuh sakit. Sang putri lantas mengirimkan utusan kepada kedua kerajaan tempat pangeran-pangeran tersebut berasal, dan meminta mereka datang ke tepi pantai Kuta sebelum adzan Shubuh berkumandang untuk mendengarkan keputusan terakhir sang putri.
Tak disangka-sangka, bukan hanya kedua pangeran tersebut yang datang, tetapi juga seluruh rakyat datang berduyun-duyun hendak menyaksikan keputusan akhir sang putri. Di depan kedua pangeran dan rakyat Lombok, Putri Mandalika berdiri di atas batu karang di tepi pantai dan bersumpah bahwa daripada ia menikah dengan salah satu pangeran dan menyebabkan kehancuran bagi kerajaannya, lebih baik ia mengorbankan dirinya menjadi nyale agar dapat membawa berkah bagi seluruh rakyat Lombok.
Setelah mengucapkan sumpah itu, Putri Mandalika menerjunkan dirinya ke laut, dan beberapa saat kemudian muncul cacing-cacing nyale di pantai tersebut. Rakyat percaya bahwa cacing nyale itu adalah jelmaan Putri Mandalika dan mereka berlomba-lomba menangkap cacing tersebut sebanyak-banyaknya.
Di tempat asalnya, Lombok Tengah, tradisi Bau Nyale dijadikan salah satu daya tarik wisata Pulau Lombok. Itulah sebabnya acara Bau Nyale ini menjadi lebih meriah dengan menampilkan berbagai kesenian rakyat, hingga drama Legenda Putri Mandalika pada malam sebelum acara Bau Nyale berlangsung. Di Sekongkang, acara seperti ini tidak ada. Bahkan ritual-ritual tertentu pun tidak ada. Mereka datang hanya untuk menangkap nyale saja. Namun, bukan berarti tradisi nyale di sini menjadi tidak menarik.
Pemandangan pantai Tropi yang indah sudah cukup menghilangkan rasa lelah dan penat setelah menangkap nyale yang amat licin itu. Pantai Tropi memang tidak terlalu terkenal seperti pantai Kuta Lombok. Akan tetapi, pemandangannya tidak kalah indah dengan ombak-ombak besarnya yang bergulung-gulung dan pasir putih yang terhampar sejauh mata memandang. Belum lagi keasrian alamnya yang begitu alami, belum tersentuh pengembang-pengembang swasta yang kadang justru malah merusak kelestarian alam. Bau Nyale di sini juga tidak kalah serunya.
***
sumber: travel.kompas.com



Rabu, 17 Maret 2010

Kegiatan PMI : Kemanusiaan dan Kerelawanan


Dalam berbagai kegiatan PMI komitmen terhadap kemanusiaan seperti Strategi 2010 berisi tentang memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, kesehatan dan perawatan di masyarakat, Deklarasi Hanoi (United for Action) berisi penanganan program pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, remaja dan manula, kemitraan dengan pemerintah, organisasi dan manajemen kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun Plan of Action merupakan keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999.
Dalam konferensi tersebut Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrar di bidang kemanusiaan.
Hal ini sangat sejalan dengan tugas pokok PMI adalah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalangmerahan yang meliputi: Kesiapsiagaan Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah. Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 sampai dengan saat ini antara lain sebagai berikut:
Membantu saat terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, saat pemberontakan RMS, peristiwa Aru, saat gerakan koreksi daerah melalui PRRI di Sumbar, saat Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang.
Membantu korban bencana alam. Ketika gempa terjadi di Pulau Bali (1976), membantu korban gempa bumi (6,8 skala Richter) di Kabupaten Jayawijaya, bencana Gunung Galunggung (1982), Gempa di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi (1994), gempa di Bengkulu dengan 7,9 skala Richter (1999), konflik horizontal di Poso-Sulteng dan kerusuhan di Maluku Utara (2001), korban gempa di Banggai di Sulawesi Tengah (2002) dengan 6,5 skala Richter, serta membantu korban banjir di Lhokseumawe Aceh, Gorontalo, Nias, Jawa Barat, Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, Pantai Pangandaran, dan gempa bumi di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.
Semua dilakukan jajaran PMI demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus membantu para korban dengan berbagai kegiatan mulai dari pertolongan dan evakuasi, pencarian, pelayanan kesehatan dan tim medis, penyediaan dapur umum, rumah sakit lapangan, pemberian paket sembako, pakaian pantas pakai dan sebagainya.
Transfusi darah dan kesehatan. Pada tahun 1978 PMI memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertama kalinya kepada donor darah sukarela sebanyak 75 kali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 telah diatur tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah. Keberadaan Unit Transfusi Darah PMI diakui telah banyak memberikan manfaat dan pertolongan bagi para pasien/penderita sakit yang sangat membutuhkan darah.
Ribuan atau bahkan jutaan orang terselamatkan jiwanya berkat pertolongan Unit Transfusi Darah PMI. Demikian pula halnya dengan pelayanan kesehatan, hampir di setiap PMI di berbagai daerah memiliki poliklinik secara lengkap guna memberikan pelayanan kepada masyarakat secara murah.



Selasa, 16 Maret 2010

MUSANG : Kekuatan Re-Generasi KSR Universitas Mataram


Musang adalah nama umum bagi sekelompok mamalia pemangsa (bangsa karnivora) dari suku Viverridae. Hewan ini kebanyakan merupakan hewan malam (nokturnal) dan pemanjat yang baik.
Yang paling dikenal dari berbagai jenisnya adalah musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Musang ini biasa hidup di dekat pemukiman, termasuk perkotaan, dan sering pula didapati memangsa ayam peliharaan di malam hari.
Dalam peribahasa, musang kerap digunakan sebagai ibarat orang yang jahat dan curang. Beberapa contoh peribahasa yang menggunakan kata musang, di antaranya:
• Musang berbulu ayam
• Musang terjun, lantai terjungkat
Musang berbulu ayam : artinya seseorang yang hatinya jahat namun berpura-pura baik; bisa juga diartikan orang yang berbahaya karena selalu mempunyai niat jelek.
Musang terjun, lantai terjungkat : artinya sudah terlihat tanda-tanda tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh seseorang; dan bisa juga diartikan barang bukti kejahatan sudah ditemukan.
Namun dalam KSR istilah “musang” diposisikan dalam konteks yang positif. “Musang” diartikan sebagai seseorang yang bisa menjadi penghubung yang memiliki daya tarik dan daya ikat satu orang dengan orang yang lain.
Karena khasnya sebagai pemangsa dimalam hari, maka musang ini akan bergerilya terutama pada malam hari. Keunikan dari musang versi KSR adalah gerilya yang dilakukan terutama dalam hal silaturrahmi dengan anggota KSR yang baru lulus DIKSAR dan puncaknya adalah disaat acara PENGUKUHAN. Disanalah “musang” akan memainkan peran penting dalam hal mengumbar daya ikat dan daya tarik pada anggota-anggota baru.
Perlu menjadi renungan kita bersama bahwa banyak kasus yang membuktikan setelah pelaksanaan DIKSAR, kecendrungan penurunan jumlah anggota KSR baru kerap terjadi. Terlebih lagi setelah acara Pengukuhan, jumlah anggota baru bisa berkurang sekitar setengahnya.
Di era KSR jaman dulu, peran “musang” telah banyak memberikan bukti nyata dalam mempererat tali silaturrahmi bagi komunitas KSR. Dampaknya adalah disetiap kegiatan KSR dilaksanakan, peserta selalu antusias dan akan merugi jika tidak megikuti. Tidak itu saja, “musang-musang” KSR juga telah terbukti dapat mempengaruhi hubungan antar UKM. Hal ini kemudian yang selanjutnya menjadikan UKM KSR-UM menjadi teladan bagi sebagian UKM lain yang ada di Universitas Mataram.
Tidak bisa kita pungkiri bawah banyak jenis kegiatan di UKM lain baik itu UKM di tingkat fakultas maupun di tingkat Universitas mengikuti jenis kegiatan yang ada di UKM KSR-UM. Sebutlah, kegiatan KBPM, tata cara Diksar dan lain-lain. Itu semua terjadi dikarenakan adanya “musang” tadi. “Musang” KSR telah mentransfer pola dan tata cara kegiatan di KSR-UM ke UKM lain. Dikarenakan banyak anggota KSR-UM yang juga menjadi pengurus di UKM lain.
Bagaimana dengan musang di era sekarang? Semoga saja, telah tercipta musang-musang baru yang lebih handal dan memiliki daya ikat yang sangat kuat untuk keberlangsungan KSR-UM ke depan. “INTER ARMA CARITAS”.
***
Kiriman:
(Alumni KSR-PMI Unit Universitas Mataram)




Senin, 15 Maret 2010

Sejarah Berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI)


Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.
Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indiƫ (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.
Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori dr RCL Senduk dan dr Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkei pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.
Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.
Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.
Dibantu Panitia lima orang terdiri atas dr R Mochtar sebagai Ketua, dr Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu dr Djoehana Wiradikarta, dr Marzuki, dr Sitanala, mempersiapkan terbentuknya Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.
Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.
Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1925 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.



Minggu, 14 Maret 2010

Info: Persyaratan Menjadi Relawan PMI


Palang Merah Remaja (PMR):
Keanggotaan terbuka bagi anggota remaja usia pada 7 – 20 tahun atau seusia SD, SMp, SMU/SMK yang kan terbagi dalam kelompok PMR Mula, PMR Madya dan PMR Wira. Pada umumnya kegiatan dikelola melalui sekolah, bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional.
Korps Sukarela (KSR):
Keanggotaan terbuka untuk umum yang berusia 20 tahun ke atas, kegiatan KSR dikelola oleh kantor PMI Cabang. Sementara ini juga sedang berkembang keanggotaan KSR PMI dilingkup perguruan tinggi. Keanggotaan tergabung dalam kesatuan korps atau unit organisasi serta dilatih dengan berbagai ketrampilan seperti : Pertolongan pertama penyelenggaraan penampungan sementara, “Tracing and mailing service” dan sebagainya.
Tenaga Sukarela (TSR) :
Keanggotaan terbuka untuk umum, kaum professional, yang secara sukarela meluangkan/menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran atau keahlian/ketrampilan khusus yang dimilikinya untuk membantu pengembangan perhimpunan PMI. Keanggotaan TSR dapat dikelola oleh markas pusat, daerah maupun markas cabang PMI.
Donor Darah Sukarela (DDS) :
(Donor Darah Sukarela) terdiri dari masyarakat umum berusia 17 – 60 tahun dan berbadan sehat. Untuk menyumbangkan darahnya pendonor dapat mendatangi kantor unit tranfusi darah cabang PMI dan mendaftarkan diri serta diperiksa sesuai prosedur sebelum pengambilan darah.