Selasa, 16 Maret 2010

MUSANG : Kekuatan Re-Generasi KSR Universitas Mataram


Musang adalah nama umum bagi sekelompok mamalia pemangsa (bangsa karnivora) dari suku Viverridae. Hewan ini kebanyakan merupakan hewan malam (nokturnal) dan pemanjat yang baik.
Yang paling dikenal dari berbagai jenisnya adalah musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Musang ini biasa hidup di dekat pemukiman, termasuk perkotaan, dan sering pula didapati memangsa ayam peliharaan di malam hari.
Dalam peribahasa, musang kerap digunakan sebagai ibarat orang yang jahat dan curang. Beberapa contoh peribahasa yang menggunakan kata musang, di antaranya:
Musang berbulu ayam
Musang terjun, lantai terjungkat
Musang berbulu ayam : artinya seseorang yang hatinya jahat namun berpura-pura baik; bisa juga diartikan orang yang berbahaya karena selalu mempunyai niat jelek.
Musang terjun, lantai terjungkat : artinya sudah terlihat tanda-tanda tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh seseorang; dan bisa juga diartikan barang bukti kejahatan sudah ditemukan.
Namun dalam KSR istilah “musang” diposisikan dalam konteks yang positif. “Musang” diartikan sebagai seseorang yang bisa menjadi penghubung yang memiliki daya tarik dan daya ikat satu orang dengan orang yang lain.
Karena khasnya sebagai pemangsa dimalam hari, maka musang ini akan bergerilya terutama pada malam hari. Keunikan dari musang versi KSR adalah gerilya yang dilakukan terutama dalam hal silaturrahmi dengan anggota KSR yang baru lulus DIKSAR dan puncaknya adalah disaat acara PENGUKUHAN. Disanalah “musang” akan memainkan peran penting dalam hal mengumbar daya ikat dan daya tarik pada anggota-anggota baru.
Perlu menjadi renungan kita bersama bahwa banyak kasus yang membuktikan setelah pelaksanaan DIKSAR, kecendrungan penurunan jumlah anggota KSR baru kerap terjadi. Terlebih lagi setelah acara Pengukuhan, jumlah anggota baru bisa berkurang sekitar setengahnya.
Di era KSR jaman dulu, peran “musang” telah banyak memberikan bukti nyata dalam mempererat tali silaturrahmi bagi komunitas KSR. Dampaknya adalah disetiap kegiatan KSR dilaksanakan, peserta selalu antusias dan akan merugi jika tidak megikuti. Tidak itu saja, “musang-musang” KSR juga telah terbukti dapat mempengaruhi hubungan antar UKM. Hal ini kemudian yang selanjutnya menjadikan UKM KSR-UM menjadi teladan bagi sebagian UKM lain yang ada di Universitas Mataram.
Tidak bisa kita pungkiri bawah banyak jenis kegiatan di UKM lain baik itu UKM di tingkat fakultas maupun di tingkat Universitas mengikuti jenis kegiatan yang ada di UKM KSR-UM. Sebutlah, kegiatan KBPM, tata cara Diksar dan lain-lain. Itu semua terjadi dikarenakan adanya “musang” tadi. “Musang” KSR telah mentransfer pola dan tata cara kegiatan di KSR-UM ke UKM lain. Dikarenakan banyak anggota KSR-UM yang juga menjadi pengurus di UKM lain.
Bagaimana dengan musang di era sekarang? Semoga saja, telah tercipta musang-musang baru yang lebih handal dan memiliki daya ikat yang sangat kuat untuk keberlangsungan KSR-UM ke depan. “INTER ARMA CARITAS”.
***
Kiriman:
(Alumni KSR-PMI Unit Universitas Mataram)




2 komentar:

  1. pengalaman pribadi banget nih...!!!wkwkwk...

    BalasHapus
  2. selamat dan sukses atas diksarnya, dan setelah diksar semoga para musang-musang baru tidak semakin berkurang ... .

    BalasHapus